Monday, November 02, 2009

Rencana-Nya

Ya ampun, tambah lama tambah terbengkalai blog ini.
Banyak cerita, tapi waktu sedikit ya gini.

Dua minggu lalu udah pasti kontrak di Wage gak diperpanjang. Alasannya sih udah gak ada duit untuk tenaga kerja sementara, padahal masih belum selesai proyek omnummeren-nya. Waktu denger itu anehnya aku gak sedih sampe mengharu-biru, malah jadi lega. Ada kepastian setelah menunggu ketidakpastian. Kayaknya capek juga ditarik ulur gini sama perpus Wage. Pinginnya ya dapet kerja tetap.

Eh kok ya malamnya dapat lowongan kerja di perpus Lingewaard dr V. Untuk level di bawah diplomaku, tapi mau nyoba buat ngelamar.
Akhirnya Kamis lalu diwawancara, di perpus Huissen, yang wawancara V&M.

Mereka nanya soal motivasi juga ditanyai kern (aspek) yang mereka nilai penting, misalnya klantgericht, resultaatgericht, dll. Secara umum aku bisa jawab, kecuali pas nyampe ke aspek terakhir: komunikasi. Aku jujur aja, aku bukan orang yang pintar ngomong, lebih pintar mendengarkan dan dari situ ngasih informasi ke pengunjung perpus. Mereka bilang kalo komunikasiku memang sisi paling lemah. M malah bilang, mending aspek ini dibagusin dulu baru kemudian lamar kerja.
Photobucket
Mood-ku langsung anjlok waktu denger ini. Kupikir aku langsung dicoret, gak lolos.

Ternyata mereka ngajuin rencana lain. Mereka bilang aku punya banyak potensi, lebih dari yang kusadari dan kutahu. Cuma ya satu itu kekuranganku. Aku bilang memang waktu sekolah dulu pelajaran komunikasi yang paling kubenci, tapi kayaknya itu juga karena dulu itu bahasa Belandaku belum sebagus sekarang. Aku cuma siap untuk nerima pelajaran, tapi untuk yang pake interaksi, gak siap.

Mereka nawarin kerja gak tetap (lewat biro kerja) untuk minimal 2 siang tiap minggunya (bisa lebih) ditambah training komunikasi. Setelah beberapa bulan ada evaluasi tentang kerjaanku, gimana perkembanganku, dll. Aku mikir daripada tahun depan gak ada kerjaan sama sekali, mending ambil aja. Lagian aku ngerasa memang posisiku saat ini jalan di tempat, gak maju dan gak mundur. Kayak butuh tantangan.

Sebenarnya kerjaan yang kulamar ini gak perlu komunikasi yang jelimet, tapi mereka ngasih aku kesempatan kerja di levelku, inlichtingwerk (pelayanan informasi). Aku memang mulai latihan kerja ini di perpus Gendt, hampir tiap Jumat malam. Di situ perpusnya kecil, pengunjungnya gak begitu banyak, jadi bisa latihan lebih baik dan lebih tenang.

Aku mikir, kok ini semua seperti ada yang ngatur. Mesti percaya sama rencana Tuhan. Keuntungannya memang kerja gak jauh dari rumah. Kalo kerja siang doang berarti pagi ada waktu sama Adinda. Harus kuakui aku pingin balik kerja di Wageningen suatu hari, aku lebih cocok di situ. But time will tell...