Generalisasi dan Pameran Indonesia
Kemaren koran kampus terbit. Pas nyampe halaman berbahasa Inggris untuk mahasiswa asing, ada surat dari mahasiswa menanggapi salah satu artikel tentang The hunt for rich foreign student. Wah apa nih, kayaknya seru. Di surat itu penulisnya bilang kalo dia gak setuju dengan artikel itu, terutama alinea ini:
"For example, the market in Indonesia - it had seemed so strong and suddenly caved in, partly due to the weak dollar," thinks Van Langenveld. "Many students finance their study with curroption money, usually in dollars."
Penulis surat itu bilang memang Indonesia terkenal negara koruptor, tapi seharusnya orang tidak mengeneralisasi kalo semua mahasiswa kaya yang sekolah di luar negerinya dibiayai oleh duit korupsi. Banyak cara untuk menjadi kaya: positif dan negatif. Intinya kalo memang semua mahasiswa asing dibiayai dengan duit korup, kenapa universitas di Belanda repot-repot cari mahasiswa asing, contohnya dari Indonesia? Kalo memang mereka nyari mahasiswa asing, mbok ya tingkah laku ke mahasiswa asingnya yang bener, bikin image yang bagus tentang universitasnya dan bukan bikin artikel atau mengeluarkan pernyataan seperti ini.
Weits aku jadi penasaran artikel tentang apa ya itu. Setelah nyari di website koran kampus, nemu artikelnya. Ternyata itu tentang penjelasan oleh orang dari Departemen Pendidikan Universitas Wageningen tentang perekrutan mahasiswa asing yang membayar sendiri uang sekolahnya (bukan penerima beasiswa). Di acara itu ada wakil dari sekolah dan universitas lain di Belanda, dan pernyataan di atas dikeluarin oleh wakil dari Universitas Delft.
Setelah baca artikel dan surat itu aku mikir kok aneh ya, nyari mahasiswa asing tapi kok ngeluarin pernyataan seperti itu? Aku memang sering mikir orang Belanda ngomong dulu baru mikir, mungkin si Van Langenveld itu gitu juga. Baru mikir omongannya salah setelah omongannya terlanjur keluar
. Selain itu, ngomongin generalisasi kayaknya susah ya gak mengeneralisasi seseorang atau suatu ras. Aku pikir kalo generalisasinya gak bikin perang atau gak bikin tersinggung orang, gak papa kali ya
. Buat penulis surat itu, aku bangga dengan dia karena berani stand up untuk negaranya
. 
Hari Selasa kemaren ketika sekolah, aku perlu fotokopi sesuatu di perpus sekolah. Karena baru pertama kali, Pierre, pembimbing kelasku nunjukin cara make mesin fotokopi. Dia cerita kalo baru-baru ini ke pameran tentang Indonesia di Amsterdam. Dia selalu tertarik dengan Indonesia karena pacarnya Indisch, campuran Surabaya-Belanda. Dia cerita kalo di pameran itu diputar tentang film jaman perjuangan Indonesia. Dia bilang dia malu waktu liat itu, kayak ngerasa bersalah. Dia juga cerita tentang pengakuan Belanda atas kemerdekaan Indonesia yang baru dilakukan tahun lalu, diwakili Menteri Luar Negeri, Ben Bot (pernah kutulis di sini). Aku hari itu gak mood diskusi karena sebenarnya harus ngejer guru buat ngasih fotokopian itu. Aku cuma bilang kalo orang Indonesia gak punya rasa dendam ke Belanda, gak seperti orang Belanda yang kayaknya masih rada-rada dengan orang Jerman. Di jaman perang memang seperti itu, jadi ya sejarah sejarah aja.
Pingin sih ke pameran itu, sayang di Amsterdam terus tiket masuknya 10 euro
. Akhirnya cuma bisa baca-baca tentang itu di website-nya.**hari ini dapat email dari teman tentang berpulangnya Pak Joko Purwanto, dosenku di IPB. Pak Joko adalah pengujiku ketika ujian skripsi dan beliau yang mewanti-wanti supaya ati-ati dengan orang keturunan Maluku di Belanda. Selamat jalan, Pak. Sampai jumpa lagi....

|