Jalan Tol dan Teman SMA
Kemaren adalah kali pertama aku 'mendalami' jalan tol. Sebenarnya beberapa kali sudah pernah lewat jalan tol, tapi masih dibantu total oleh guruku. Kali ini sampai berapa kali bolak-balik jalan tol karena sudah masuk Bab 3, yang pelajarannya tentang jalan tol. Dua minggu lagi aku dites Bab 2, tentang parkir mundur, naik tanjakan, mundur di tikungan, dll.
Menegangkan juga belajar di jalan tol, mana kemaren jalanan lagi sibuk, banyak truk dan mobil lain. Guruku nanya, kenapa aku pendiam sekali hari ini. Yah, gimana, mungkin saking tegang dan konsennya, sampai aku jadi super pendiam. Mungkin dikombinasikan dengan mulainya kerja magangku besok. Deg-degan aja sih, takut ada kendala bahasa dan lain-lain.
Hari Senin kita ke rumah bu Winnie, barenganku carpoolen. Orangnya banyak bicara, dia kerja di universitas juga. Kita kenalan juga dengan suaminya, yang sedang sibuk membersihkan terompetnya. Mereka punya empat anak, jadi bu Winnie bilang kadang dia ada yang tidak terduga kalau misalnya anaknya sakit tiba-tiba atau kejadian tidak terduga lainnya. Misalnya besok dia harus pulang kerja awal, kalau kerjaku besok sampe jam 5, ya aku harus pulang sendirian. Besok hari pertamaku, dia bersedia jemput ke rumah, setelah itu mungkin janjian ketemu di jalan besar.
Sekali lagi weblog membawa sesuatu yang tidak disangka-sangka. Berkat Nova (terima kasih banyak Nov
), aku bisa ketemu lagi dengan teman lama jaman SMA, Dyna. Ternyata mereka pernah satu kampus. Hari ini kami "bertemu" lewat MSN, berbagi cerita dan memori jaman SMA. Aku dan Dyna sekelas di kelas 1.1 SMA(sekarang A jadi U?) Xaverius 1 Palembang, yang lebih dikenal dengan julukan SMA Bangau karena letaknya di jalan Bangau. Aku jadi ingat jaman baru masuk SMA. Dari TK sampe SMP sekolahku selalu berada dalam jangkauan naik sepeda. Baru ketika masuk SMA, sekolahku berjarak jauh dari rumah. Aku tinggal di Plaju yang letaknya jauh dari sekolahku yang ada di pusat Palembang. Aku ingat setiap ditanya teman dimana tinggalku dan kujawab Plaju, pasti jawabannya selalu, "Jauh sekali" dengan muka begini -->
.Jaman SMA aku naik mobil jemputan, rame-rame dengan teman dari SD dan SMP yang sama. Aku ingat di saat-saat awal, pelanggan mobil masih ada temen cowok, lama-kelamaan mereka mengundurkan diri satu persatu karena tidak bebas bila sepulang sekolah mereka ingin ke rumah teman. Hari pertama sekolah dan dibagi ke kelas-kelas, aku hanya bisa memandangi teman-teman yang kukenal satu per satu dipisahkan di kelas-kelas yang berbeda. Ketika masuk ke kelasku, aku hanya bisa terdiam sementara anak-anak lainnya saling ngobrol asyik karena kebanyakan mereka berasal dari SMP yang sama (dari pusat kota Palembang) dan saling kenal. Di hari pertama itu kita masih pake seragam SMP dan aku heran sendiri melihat seragam SMP mereka yang tidak pakai dasi
. Sejujurnya, aku minder liat mereka, anak-anak sekolah dari kota, sementara aku dari desa (yang sebenarnya gak ndeso-ndeso banget). Untungnya di antara anak-anak kota itu ada yang ramah dan ngajak kenalan, salah satunya Dyna ini.
Ketika ceting dengan Dyna, aku tahu dan ingat sebagian besar nama teman SMA yang disebutkan, tapi aku tidak kenal dekat dengan mereka. Aku pun bertanya-tanya, apakah teman-teman SMA masih ingat padaku
. Kesannya mungkin aku pesimis, tapi aku bukan orang yang mencolok dan mudah diingat. Wajar saja kalau ada yang lupa
.Dyna cerita tentang hubungan dengan teman-teman SMA -nya yang masih berlanjut sampai sekarang. Aku sedih sendiri mengingat hubunganku dengan teman SMA. Begitu lulus SMA, sepertinya tidak ada kontak sama sekali dengan teman lain. Ada sih satu teman sekelasku (Biologi 1) yang masuk IPB juga, tapi kami berbeda fakultas dan tidak dekat sama sekali. Kalo aku mudik, masih ada beberapa temen SMA (merangkap temen SD dan SMP) yang masih kutemui bila ke gereja.
Kesimpulannya, ternyata jaman SMA-ku tidak begitu berkesan, mungkin karena hubungan pertemanan yang begitu-begitu saja, tidak dibina, berbeda dengan teman kuliah. Walaupun begitu, aku berharap dari "pertemuan"ku dengan Dyna, akan membawaku ke teman-teman SMA jaman dulu. You never know....
Ternyata postingan tentang nama tempat sebelum ini menimbulkan pertanyaan baru tentang perbedaan Holland dan The Netherlands. Iseng nyari jawaban lewat googling, nemu jawabannya di http://www.worldatlas.com/aatlas/infopage/holland.htm. Yang menarik bagiku sebenarnya ini :
Calling the Netherlands "Holland", is like calling Great Britain "England."Nambah lagi nama tempat yang punya nama lebih dari satu
.
.
. Hari Senen besok kita mampir ke rumahnya untuk berkenalan.
.
Berkat
. 




.

.
.
. Bagus juga lho brosurnya, antik gitu. Trus ada juga buku lama yang isinya foto-foto Batavia alias Jakarta di jaman dulu.
. Aku ngungsi aja ke kamar atas, nonton Frasier di channel lain.
. Aku sendiri kagok berlo-gue, lebih biasa pake aku-kamu, walaupun mungkin ada yang menganggap itu kampungan atau terlalu baku atau apa.
.
.
. Setelah Bold and the Beautiful kalau Gegen belum pulang kerja biasanya aku nonton BBC, acara Ready Steady Cook, semacam lomba memasak antara 2 koki yang dibantu bintang tamu. Selesai mereka masak penonton memilih favorit mereka di antara 2 koki tersebut.
. Kayaknya aku langsung jadi eneg kalo liat dia makan
.
.
Dari cerita ibu, beliau salah satu wanita terkuat yang dia kenal. Setelah suaminya (bapak dari ibuku) dipanggil Tuhan, beliau berjuang sendirian untuk kelima anaknya. Kalau melihat beliau, aku sadar dari beliaulah sifat pendiamku, walaupun kemudian kulihat, beliau lebih pendiam dan tenang. Kenangan masa kecilku, setiap Natal bila kami ke Solo, beliau selalu membelikan brem (makanan kecil, putih terbuat dari tape) kesukaanku di warung dekat rumahnya. Juga ketika cuma kami berdua di rumah, kami makan ayam Bakar Kerten, dengan nasi hangat dan makannya pake tangan. Sebelum berangkat untuk sekolah di Belgia, aku menyempatkan diri mengunjungi semua keluarga di Semarang dan Solo, dan beliau memberiku berkat tanda salib ketika kami meninggalkan Solo. Itulah saat terakhirku melihat beliau yang jangkung, berdiri gagah di atas dua kakinya....