Wednesday, August 31, 2005

Jalan Tol dan Teman SMA

Kemaren adalah kali pertama aku 'mendalami' jalan tol. Sebenarnya beberapa kali sudah pernah lewat jalan tol, tapi masih dibantu total oleh guruku. Kali ini sampai berapa kali bolak-balik jalan tol karena sudah masuk Bab 3, yang pelajarannya tentang jalan tol. Dua minggu lagi aku dites Bab 2, tentang parkir mundur, naik tanjakan, mundur di tikungan, dll.

Menegangkan juga belajar di jalan tol, mana kemaren jalanan lagi sibuk, banyak truk dan mobil lain. Guruku nanya, kenapa aku pendiam sekali hari ini. Yah, gimana, mungkin saking tegang dan konsennya, sampai aku jadi super pendiam. Mungkin dikombinasikan dengan mulainya kerja magangku besok. Deg-degan aja sih, takut ada kendala bahasa dan lain-lain.

Hari Senin kita ke rumah bu Winnie, barenganku carpoolen. Orangnya banyak bicara, dia kerja di universitas juga. Kita kenalan juga dengan suaminya, yang sedang sibuk membersihkan terompetnya. Mereka punya empat anak, jadi bu Winnie bilang kadang dia ada yang tidak terduga kalau misalnya anaknya sakit tiba-tiba atau kejadian tidak terduga lainnya. Misalnya besok dia harus pulang kerja awal, kalau kerjaku besok sampe jam 5, ya aku harus pulang sendirian. Besok hari pertamaku, dia bersedia jemput ke rumah, setelah itu mungkin janjian ketemu di jalan besar.

**************


Sekali lagi weblog membawa sesuatu yang tidak disangka-sangka. Berkat Nova (terima kasih banyak NovImage hosted by Photobucket.com), aku bisa ketemu lagi dengan teman lama jaman SMA, Dyna. Ternyata mereka pernah satu kampus. Hari ini kami "bertemu" lewat MSN, berbagi cerita dan memori jaman SMA.

Aku dan Dyna sekelas di kelas 1.1 SMA(sekarang A jadi U?) Xaverius 1 Palembang, yang lebih dikenal dengan julukan SMA Bangau karena letaknya di jalan Bangau. Aku jadi ingat jaman baru masuk SMA. Dari TK sampe SMP sekolahku selalu berada dalam jangkauan naik sepeda. Baru ketika masuk SMA, sekolahku berjarak jauh dari rumah. Aku tinggal di Plaju yang letaknya jauh dari sekolahku yang ada di pusat Palembang. Aku ingat setiap ditanya teman dimana tinggalku dan kujawab Plaju, pasti jawabannya selalu, "Jauh sekali" dengan muka begini -->Image hosted by Photobucket.com.

Jaman SMA aku naik mobil jemputan, rame-rame dengan teman dari SD dan SMP yang sama. Aku ingat di saat-saat awal, pelanggan mobil masih ada temen cowok, lama-kelamaan mereka mengundurkan diri satu persatu karena tidak bebas bila sepulang sekolah mereka ingin ke rumah teman. Hari pertama sekolah dan dibagi ke kelas-kelas, aku hanya bisa memandangi teman-teman yang kukenal satu per satu dipisahkan di kelas-kelas yang berbeda. Ketika masuk ke kelasku, aku hanya bisa terdiam sementara anak-anak lainnya saling ngobrol asyik karena kebanyakan mereka berasal dari SMP yang sama (dari pusat kota Palembang) dan saling kenal. Di hari pertama itu kita masih pake seragam SMP dan aku heran sendiri melihat seragam SMP mereka yang tidak pakai dasiImage hosted by Photobucket.com.

Sejujurnya, aku minder liat mereka, anak-anak sekolah dari kota, sementara aku dari desa (yang sebenarnya gak ndeso-ndeso banget). Untungnya di antara anak-anak kota itu ada yang ramah dan ngajak kenalan, salah satunya Dyna ini.

Ketika ceting dengan Dyna, aku tahu dan ingat sebagian besar nama teman SMA yang disebutkan, tapi aku tidak kenal dekat dengan mereka. Aku pun bertanya-tanya, apakah teman-teman SMA masih ingat padakuImage hosted by Photobucket.com. Kesannya mungkin aku pesimis, tapi aku bukan orang yang mencolok dan mudah diingat. Wajar saja kalau ada yang lupaImage hosted by Photobucket.com.

Dyna cerita tentang hubungan dengan teman-teman SMA -nya yang masih berlanjut sampai sekarang. Aku sedih sendiri mengingat hubunganku dengan teman SMA. Begitu lulus SMA, sepertinya tidak ada kontak sama sekali dengan teman lain. Ada sih satu teman sekelasku (Biologi 1) yang masuk IPB juga, tapi kami berbeda fakultas dan tidak dekat sama sekali. Kalo aku mudik, masih ada beberapa temen SMA (merangkap temen SD dan SMP) yang masih kutemui bila ke gereja.

Kesimpulannya, ternyata jaman SMA-ku tidak begitu berkesan, mungkin karena hubungan pertemanan yang begitu-begitu saja, tidak dibina, berbeda dengan teman kuliah. Walaupun begitu, aku berharap dari "pertemuan"ku dengan Dyna, akan membawaku ke teman-teman SMA jaman dulu. You never know....

******************


Ternyata postingan tentang nama tempat sebelum ini menimbulkan pertanyaan baru tentang perbedaan Holland dan The Netherlands. Iseng nyari jawaban lewat googling, nemu jawabannya di http://www.worldatlas.com/aatlas/infopage/holland.htm. Yang menarik bagiku sebenarnya ini :
Calling the Netherlands "Holland", is like calling Great Britain "England."
Nambah lagi nama tempat yang punya nama lebih dari satuImage hosted by Photobucket.com.

Tuesday, August 30, 2005

Beda bahasa, beda nama

Waktu nulis Catatan Perjalanan, rada bingung tentang sebutan nama kota. Belgia negara kecil tapi penduduknya berbahasa Belanda (di wilayah Flanders), Perancis (wilayah Wallonia) dan di suatu daerah kecil berbahasa Jerman. Nama-nama jalan di Brussels, ibukota Belgia, ditulis dengan dua bahasa, Belanda dan Perancis. Yang bingung lagi, nama-nama daerahnya dibedakan lagi untuk dua bahasa itu. Misalnya Mons, kota tempat tinggal Juju di daerah Wallonia, punya nama dalam bahasa Belanda, Bergen. Jadi di papan peron kereta api, yang disebut dua nama itu :Mons/Bergen.

Tapi ternyata bukan hanya di Belgia saja, dimana beda bahasa, beda namanya. Di Belanda sendiri, Den Haag nama resminya adalah 's-Gravenhage dan dalam bahasa Inggris The Hague. Kenapa ya nama tempat tidak dibikin standar saja?

Beberapa contoh lagi :
- Koln (DE)/Keulen (NL)/Cologne (EN)
- Brugge (NL)/Bruges (FR)(EN)
- Gent (NL)/Gand (FR)/Ghent (EN)
- Osnabruck (DE)/Osnabrugge (NL)/Osnabrueck (EN)
(DE : bahasa Jerman, NL : bahasa Belanda, EN : bahasa Inggris, FR : bahasa Perancis)

Mungkin itu seperti Solo dan Surakarta ya, banyak yang mikir itu dua kota yang berbeda, padahal sama saja, seperti juga Holland dan The Netherlands Image hosted by Photobucket.com.

Saturday, August 27, 2005

Sampai di rumah

Setelah dari Kamis tidak di rumah, 2 malam berturut-turut mimpi buruk tentang Milli yang ditinggal sendiri di rumah, akhirnya hari ini kita nyampe rumah dengan selamat. Lega karena Milli sehat dan tetap ceria, sedih karena 3 hari berlalu dengan cepat sekaliImage hosted by Photobucket.com.

Cerita kemaren ada di Catatan Perjalanan.

Wednesday, August 24, 2005

Carpool, Google Talk dan wiken panjang

Berkat website ini, perjalananku ke tempat magang (Wageningen) yang lama dan memakan ongkos lumayan banyak, jadi diringankan. Untuk mengurangi macetnya jalanan juga penghematan energi, di sini ada yang namanya carpool atau naik mobil bersama-sama. Jadi orang-orang yang tinggal berdekatan dan kerja atau sekolah di tempat yang sama, bisa pergi bareng. Pada website tersebut orang bisa mengisi data akan kemana dan tinggal dimana dan penyedia website akan mencocokkan data kita dengan orang lain yang mendaftar. Beberapa minggu setelah mengisi data di website itu, aku dikirimi daftar orang yang mungkin bisa diajak carpoolen. Ada satu orang yang juga tinggal di Bemmel dan kerja di Wageningen. Gegen nelpon si bapak itu, yang ternyata tidak kerja di Wageningen lagi, tapi kenal beberapa orang yang kerja di sana. Berkat supelnya orang Belanda dan relasi yang baik dengan teman, akhirnya lewat bapak itu, aku dapat teman carpool ibu-ibu yang kerja di WageningenImage hosted by Photobucket.com. Hari Senen besok kita mampir ke rumahnya untuk berkenalan.

****************


Setelah Blogger, Gmail, Google Earth, Picassa, Hello, Desktop Search, sekarang Google mengeluarkan senjata baru : Google Talk, yang masih sederhana dan belum ada emoticon-nya. WAWImage hosted by Photobucket.com.

*****************


Siapa sangka Milli bisa masuk majalah dan aku punya kalau bukan karena Flickr. Yas, akhirnya aku daftar Flickr juga Image hosted by Photobucket.com.

Thanks to Badge maker and Magazine Cover

****************


Image hosted by Photobucket.comBerkat Weekendjeweg.nl, kita bisa nginep di hotel yang harganya miring di Terneuzen, kota di propinsi Zeeland, daerah Zeeuws-Vlaanderen, perbatasan barat Belanda-Belgia. Hari Jumat kita akan main ke Brugge atau Bruges yang tidak jauh dari Terneuzen. Tunggu saja ceritanya di siniImage hosted by Photobucket.com.

Selamat wiken buat semua!!Image hosted by Photobucket.com

**peta diambil dari http://www.retarco.com/

Monday, August 22, 2005

Seksi cuci piring dan lomba istana pasir

Sabtu ada pesta ulang tahun di rumah mertuaku, kali ini seperti tahun kemaren, ada dua ulang tahun yang dirayakan : ulang tahun Tante Louise dan Laetitia. Kita diundang datang antara jam 3-4 sore, sebelumnya Tante Ria dan Tante Louise datang ke rumah, pingin nengok Milli. Mereka pecinta kucing juga dan selalu nanya-nanya kapan boleh menengok Milli.

Gak lama setelah mereka datang, datang Christine dan Irmegard (kakak Gegen yang nomor 3) bersama suami dan anak tirinya. Mereka tadinya liat calon rumah Christine yang sekomplek dengan kita dan mampir sebentar.


Jam 4, kita berangkat ke rumah mertuaku. Di sana sudah ada Laetitia dan Eugene juga. Gak kaget sih liat Eugene, tapi bingung aja, dia gimana ya perasaaannya berada di tengah keluarga Laetitia sementara hubungan mereka sudah berakhir.

Pestanya di kebun, padahal cuacanya gak cerah, berawan, panas dingin gak jelas. Laetitia bilang dia sudah masak pasta saus tomat untuk makan malam dan Tante Louise bawa kue dan pencuci mulut. Aku gak kuat lama-lama duduk di luar (di tengah lingkaran setan Image hosted by Photobucket.com), jadi mendingan menyibukkan diri di dapur, bantu-bantu Laetitia motong sayur untuk salad atau nyuci piring. Waktu kita cuma berdua di dapur, aku nanya gimana sekarang dia dan Eugene. Katanya, mereka bakal mencoba memperbaiki hubungan. Wah seneng juga dengernya, abis kayaknya they meant to be together, aneh aja liat mereka putus. Semoga hubungan mereka membaik setelah ini.

Hari Minggu kita ke strandpark atau taman pantai (pantai buatan di pinggir danau kecil) di Slijk-Ewijk, gak jauh dari tempat kita. Kata koran desa, minggu ini dan 2 minggu ke depan ada pertandingan membuat istana pasir bertemakan cerita karangan Hans Christian Andersen. Jadi ada karya yang berdasarkan cerita Bebek Buruk Rupa, Putri dan Kacang Polong, Serdadu Timah, dll. Peserta lomba ini amatiran, ada yang dari kelompok pramuka, sekolah, yayasan, dll. Hadiah uang dari lomba ini biasanya dipergunakan untuk kegiatan sosial atau kegiatan dari kelompok yang bersangkutan. Di pintu masuk kita dikasih brosur penjelasan tiap kelompok peserta, sedikit keterangan tentang kelompok dan tujuan mereka mengikuti lomba ini. Kita juga diberi kartu untuk memilih peserta favorit. Dari lomba hari ini dipilih 3 pemenang yang nantinya akan diadu dengan peserta lomba serupa minggu depan di tempat yang berbeda.

Kalo baca-baca brosurnya, kayaknya orang bakal milih bukan berdasarkan bagus tidak karyanya, tapi berdasarkan tujuan kelompok mengikuti lomba. Seperti kita, memilih kelompok yang sebenarnya karyanya gak bagus-bagus banget, tapi setelah mendengar penjelasan wakil kelompok dan baca keterangan di brosur, kita jadi milih mereka. Wakil kelompok itu menjelaskan kalau mereka memilih cerita Bebek Buruk Rupa karena mereka melihat anak-anak cacat mental yang sering dianggap 'bebek buruk rupa' (bodoh, jelek, dll) oleh masyarakat, padahal di mata kelompok ini, mereka sebenarnya adalah 'angsa yang cantik' (berhati lembut dan baik hati). Mereka ingin melakukan kegiatan bersama dengan anak-anak cacat, misalnya kegiatan ke taman bermain atau kegiatan menarik lainnya. Untuk menghindari subjektivitas penonton, ada juga para juri yang menilai karya mereka. Di tengah-tengah acara hari ini, ada "selebritis" Gelderland, reporter TV Gelderland, Angelique Krüger yang mewancarai penonton dan peserta lomba bersama bapak-bapak yang pura-pura jadi Hans Christian Andersen. Ada juga acara pembacaan dongeng Hans Christian Andersen untuk anak-anak.


Pilihan kita : G-Team, Arnhem



Putri dan Kacang Polong



Bebek Buruk Rupa




Wiken ini berkaitan dengan peringatan kemerdekaan Indonesia, TV Gelderland menayangkan rangkaian acara Indonesië Weekend. Sebagian ada yang pernah kita tonton, antara lain tentang mbak-mbak pemilik rumah makan Rasasari langganan kita yang keturunan Indisch, juga kunjungan ke rumah pasangan suami-istri Indisch. Yang belum pernah kita tonton adalah acara Op Zoek naar Mama, yang bercerita tentang pencarian ibu kandung oleh Bud(iman) Wichers, jurnalis TV Gelderland. Ketika bayi dia diadopsi oleh pasangan Belanda dan dibesarkan di Belanda. Bud dilahirkan di Jakarta dan ditaruh di panti asuhan yang dikelola oleh para suster yang kebanyakan orang Belanda. Dari wawancara dengan bekas pengurus panti asuhan, ternyata Bud adalah salah satu dari 800(!) anak yang diadopsi dan diboyong ke Belanda. Dia bukan satu-satunya orang yang mencoba menemukan orang tua kandungnya.

Di Jakarta, Bud berhasil menemukan rumah sakit tempat dilahirkan, pengasuh yang sempat mengasuhnya, panti asuhan bahkan rumah ibunya yang jadi tanah kosong. Ibunya sendiri hilang tanpa jejak. Ketika bertemu dengan pengasuh dan pengurus panti asuhan, mereka berkomunikasi dengan bahasa Belanda, Bud sendiri tidak bisa bahasa Indonesia. Di panti asuhan, dia mewancarai bebarapa anak yatim piatu yang ada di situ. Setelah sebulan mencari dan tidak berhasil menemukan ibunya, Bud kembali ke Belanda. Dia menyumbang komputer untuk panti asuhan dan menyampaikan ke penghuni asuhan, walaupun dia tidak berhasil menemukan ibunya, dia mendapatkan adik-adik baru. Di akhir acara, ada tulisan I can't find my past, but here when I met Windu, I find my future. Ternyata dia jatuh cinta sama cewek Indonesia, sayangnya mereka harus berpisah ketika Bud kembali ke Belanda. Mengharukan juga sih acaranyaImage hosted by Photobucket.com.

Friday, August 19, 2005

Pelanggar lalu lintas

Acara berkaitan dengan lalu lintas ini hadir di berbagai stasiun tivi di Belanda. Salah satunya adalah Wegmisbruikers atau Pelanggar lalu lintas di stasiun SBS6. Acaranya tentang pelanggaran lalu lintas. Kamerawan ikut di dalam mobil polantas, melihat cara kerja mereka termasuk ketika pelanggar lalu lintasnya disuruh berhenti oleh polisi dan didenda.

Mobil polisi punya kamera yang dipasang di dalam mobil dan ditampilkan di layar yang bisa dilihat oleh pengemudi dan pendampingnya, seperti di foto di atas. Di televisi, ditampilkan apa saja yang terpampang di layar itu, antara lain kecepatan rata-rata mobil di depan mobil polisi. Dengan itu, polisi bisa tahu apakah kecepatan mobil di depannya melanggar lalu lintas atau tidak.

Kebanyakan pelanggaran lalu lintas yang ditemui adalah ngebut, nyalip yang tidak sesuai peraturan (nyalip dari sebelah kanan atau melewati garis tidak putus-putus atau yang dilarang oleh rambu) dan kadang ditemui mobil atau motor yang tanda kendaraannya tidak sah lagi. Ada juga pengemudi yang curang, memasang alat yang membuat polisi tidak bisa melacak kecepatan mengemudinya. Tentu saja orang yang seperti itu dianggap melanggar lalu lintas dan dikenai denda.

Untuk menghentikan pelanggar lalu lintas, polisi punya 2 papan berlampu di bagian belakang dan depan mobil. Bila polisi berhasil menyalip si pelanggar, papan berlampu yang bertuliskan "Stop" langsung dinyalakan sebagai suruhan untuk berhenti di tempat yang aman. Mobil polisi biasanya menyamar, tidak berupa mobil polisi lengkap dengan atribut tapi berupa mobil biasa, sehingga orang tidak bakal tahu kalau di dalamnya ada polisi.

Kalau dilihat-lihat, sepertinya kebanyakan pelanggar lalu lintas adalah motor yang biasanya suka menyalip seenaknya atau ngebut. Mungkin karena mengendarai motor yang kelihatan macho, mereka jadi terpancing untuk ngebutImage hosted by Photobucket.com.

Selain mengikuti mobil polisi, pembawa acaranya membawa satu rambu lalu lintas dan menanyai orang-orang di jalanan, apakah mereka tahu arti rambu itu. Ternyata tidak semua orang tahu arti rambu yang kelihatannya sederhana. Bagi yang memberi jawaban benar, diberi lambang jempol yang bisa ditaruh di dashboard mobil Image hosted by Photobucket.com.

Di tayangan kemaren, pembawa acara juga menanyai polisi lalu lintas dari tiga negara: Belanda, Jerman dan Belgia tentang peraturan lalu lintas di negara masing-masing, misalnya tentang kecepatan mengemudi, denda, dll. Ternyata Belanda dan Belgia tidak begitu berbeda peraturannya, sedangkan Jerman berbeda. Di Jerman, ada jalan bebas hambatan yang kecepatannya tidak dibatasi.

Untuk mengontrol kecepatan maksimum, biasanya di jalan-jalan tertentu dipasang kamera blits yang tidak setiap saat diaktifkan. Kalo polisinya lagi iseng, kamera dihidupkan dan bila kita melanggar batas kecepatan maksimum, langsung kameranya nge-blitz dan kita siap-siap terima denda dari polisi yang dikirim per posImage hosted by Photobucket.com.

**sumber foto http://www.politie.nl/Drenthe

Wednesday, August 17, 2005

Ulang tahun Ke -60 Indonesia dan Blog yang pertama

"I love Indonesia and love means that one accepts the shortcomings and the not-so-good things..."

Saya cinta Indonesia dan cinta berarti menerima kekurangan dan hal-hal yang kurang baik dari Indonesia...


Pernyataan di atas dikutip dari salah satu emailku dengan pemilik londoh.com. Pria Belanda yang sudah tinggal selama 14 tahun di Indonesia, yang sudah mengakui rendang sebagai makanan favoritnya, yang membuat website menarik tentang bangunan bersejarah peninggalan Belanda yang kebanyakan masih berserakan di Indonesia.

Teman, terus terang aku malu bercampur bangga ketika melihat minat bapak ini akan sejarah negara kita. Sementara kebanyakan dari kita mengeluh dan membanding-bandingkan negara kita dengan negara maju, orang bukan asli Indonesia malah mengagumi negara kita. Mungkin aku yang terlalu melankolis, bisa bilang begini karena jauh dari tanah air, tapi kupikir walaupun jauh dari Indonesia, sudah jadi tugasku untuk membawa nama negara. Tidak usah muluk-muluk, cukup dengan tidak membawa cerita jelek tentang negara sendiri, memberi citra yang baik ke sekitar sebagai orang Indonesia yang ramah dan suka membantu, kurasa itu sudah cukup. Gak mudah sebenarnya kalo dipikir-pikir.Apalagi dengan macam-macam yang terjadi di Indonesia, seperti kemiskinan, GAM, korupsi dll. Kayaknya lebih mudah menceritakan kejelekan daripada kebaikan.

Harapanku untuk Indonesia, sekarang kita merdeka dari kolonialisme, tapi ada penjajahan dalam bentuk lain, yaitu kemiskinan, korupsi dan masalah pembangunan lainnya. Dari jauh aku berdoa, semoga kita menang melawan penjajahan itu. MERDEKA!!!

Tanggal 17 Agustus ini setahun yang lalu, rwidiani dot blogspot dot com dibuat. Banyak suka dan duka yang telah kutumpahkan di sini. Banyak juga teman yang kudapat dari ini dan dari forum Blogfam. Tak kusangka, diary online ternyata bisa merubah hidupku. Tanpa weblog aku tidak bakal tahu kalau ada teman lain yang senasib denganku, tinggal di negara lain, di desa dan bukan di kota. Tanpa weblog aku tidak bakal bisa merasakan merawat teman kecil yang satu ini. Yang paling penting, tanpa weblog, aku bakalan tidak pernah tahu, ada teman-teman yang funky dan asyik diajak ngobrol dan bertukar info (!) tanpa harus bertatap muka!!! Dari weblog aku bisa tahu pengalaman orang dan cara berpikir mereka yang menarik dan bisa menjadi pelajaran. Terima kasih banyak weblog-ku...

Semoga weblog ini tetap awet dan berlanjut sampai aku mati karena nanti ini bisa jadi dokumen hidupku, yang nanti bisa kubaca-baca lagi, bisa membuatku tertawa dan juga menangis mengenang yang pernah terjadi di dalam hidupku. Semoga sesibuk apapun, aku tidak lupa menulis sesuatu di sini, karena apa pun yang terjadi, weblog ini berjasa banyak untukku. Seperti kata teman ini, jangan biarkan apapun dan siapapun menghentikanmu menulis di weblog, karena itu arsip hidupmu!!

Tuesday, August 16, 2005

Pengakuan

Seperti yang pernah disinggung di sini, kemarin adalah peringatan korban perang yang jatuh pada tahun 1941-1945 antara Belanda dan Jepang. Kemaren di tivi disiarkan upacara yang berlangsung di Den Haag, di Indisch Monument, yang dihadiri oleh para veteran dan Ratu Beatrix.

Di kesempatan yang sama, Ben Bot, Menlu Belanda, menyatakan bahwa setelah 60 tahun kemerdekaan Indonesia, pemerintah Belanda akhirnya mengakui bahwa 17 Agustus 1945 adalah hari kemerdekaan Indonesia, lepas dari penjajahan Belanda. Sebelumnya, mereka menetapkan bahwa Indonesia bebas dari penjajahan pada tanggal 27 Desember 1949. Ben Bot akan hadir pada perayaan hari kemerdekaan esok hari di Jakarta dan akan menjelaskan kepada rakyat dan pemerintah Indonesia akan kesalahan mereka, bahwa kedatangannya adalah penerimaan secara moral dan politik akan tanggal tersebut (17 Agustus). Pada pidatonya, Menlu Bot menceritakan pengalaman masa kecilnya ketika ditahan di kamp oleh Jepang.

Di Koran NRC Handelsblad dua orang penting di Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau Institut Bahasa, Negara dan Ilmu Masyarakat di Leiden membahas sedikit tentang perlunya peninjauan kembali pelajaran sejarah di sekolah setelah pengakuan 17 Agustus oleh pemerintah Belanda.

Kemaren malam, di acara Netwerk, Step Vaassen, koresponden NOS Journaal untuk Indonesia, mewawancarai tiga veteran perang, di Gedung Juang '45, Jakarta. Step bisa bahasa Indonesia, tapi tiga bapak veteran ini pake bahasa Belanda!! Masih bagus bahasa Belandanya, pilihan kata-katanya pun bikin aku terperangah, masih inget gitu ya mereka. Mereka bertiga bercerita tentang masa perjuangan kemerdekaan, bagaimana pendapat mereka tentang datangnya Menlu Bot besok, dll.

Akhirnya setelah 60 tahun....

**baca lebih lanjut di sini

Monday, August 15, 2005

Deventer (lagi)

Sabtu, setelah beli sayur dan buah di pasar Nijmegen, kita pingin jalan-jalan ke tempat lain. Mikirnya pingin ke Oberhausen, kota di Jerman yang termasuk dekat dengan daerah kita. Ternyata masih 88 km jaraknya dari ArnhemImage hosted by Photobucket.com. Ya gak jadilah, waktu itu udah jam 2 lewat, jangan-jangan nanti pas nyampe Oberhausen, udah gak ada apa-apa yang bisa diliat, toko-toko udah tutup. Denger-denger, di Oberhausen ada Starbucks. Sebagai pecinta kopi, Gegen belum pernah ngerasain kopinya Starbucks yang terkenal. Bingung juga, kenapa di Belanda gak ada cabangnya. Mungkin orang Belanda fanatik dengan kopinya sendiri, jadi gak rela membuka cabang untuk kopi Starbucks ini Image hosted by Photobucket.com.

Akhirnya kita mutusin ke Deventer. Apalagi yang dilihat kalau bukan buku. Deventer ini gudangnya toko buku bekas, bisa dibilang salah satu kota favorit kita. Selain itu, kota yang letaknya di propinsi Overijssel ini, kelihatannya unik, antik. Toko-toko yang ada di sini, gak umum seperti toko-toko yang biasa ditemui di kota lain di Belanda. Kalau ke kota lain, kayaknya yang diliat toko itu-itu saja. Nyampe Deventer, kita jalan-jalan, dan nemu Hotel dan Museum De Leeuw, museum kecil yang isinya barang-barang antik, antara lain mixer, papan kayu pencetak kue jahe, mesin pembuat bubuk kopi, dll. Hotel di museum ini setelah kita lihat di website-nya, ternyata mahal juga. Salah satu toko buku bekas yang kita kunjungi adalah toko buku punya Jos Wijnhoven. Dia punya buku-buku lama tentang Indonesia (kebanyakan bahasa Belanda) dan kita sering dikirimin newsbrief sama dia. Pas kita ke sana, aku liat brosur pariwisata tentang Sumatra dalam bahasa Inggris, keluaran tahun 1930-anImage hosted by Photobucket.com. Bagus juga lho brosurnya, antik gitu. Trus ada juga buku lama yang isinya foto-foto Batavia alias Jakarta di jaman dulu.

Hari Sabtu ini adalah peresmian stasiun tivi terbaru, Talpa. Pemilik stasiun tivi ini namanya John de Mol, orangnya kreatif di pertelevisian dan kaya banget. Berkat duit dan kepintarannya dia berhasil "membujuk" presentator dan pembuat acara dari stasiun televisi lain untuk pindah ke stasiunnya. Talpa ini nongolnya cuma malam hari, pagi harinya diisi oleh Nickelodeon, yang acaranya film anak-anak. Acara pembukaan kemaren diisi oleh penyanyi terkenal lokal, Marco Borsato. Kepalaku sakit banget, jadi gak nonton kemaren. Katanya sih, pembukaan ini ditonton oleh lebih dari 1 juta penonton (jumlah penduduk Belanda, 15 juta). Setelah acara pembukaan, acara selanjutnya adalah acara favorit Gegen yang musim barunya baru dimulai minggu ini : Liga Utama BelandaImage hosted by Photobucket.com. Aku ngungsi aja ke kamar atas, nonton Frasier di channel lain.

Begitu saja wiken kali ini. Hari ini (Senin) ada pasar kuda poni tahunan di Bemmel. Pasarnya mulai pagi-pagi sekali, isinya ya pelelangan kuda poni. Selain itu, sampe besok ada kermis/pasar malam di sini. Jadi pingin poffertjes, ada gak yaImage hosted by Photobucket.com.

Friday, August 12, 2005

Rumput

Waktu baca ini dan ada pernyataan di bawah ini :


It was unclear from the report why the Dutch applicants wanted a Belgian passport as both countries are in the European Union.

EU citizens are supposed to have largely the same rights as locals when living in another state in the union.


It is clear to me why they change/move to Belgium.

Yang terbayang di mataku adalah gedung-gedung antik lengkap dengan patung di atas jalanan yang dibangun dari batu, nikmatnya makan Vlaamse friet (kentang goreng Flemish) di frietkot (kedai kentang goreng), wangi dan nikmatnya wafel Belgia berlapis coklat dihiasi stroberi, bermacam-macam jenis coklat enak di supermaket, bersih dan tenangnya kereta api (walau tak berarti bebas pencuri bagasiImage hosted by Photobucket.com), lezatnya makanan Cina take away di pojokan asrama, praktisnya naik metro dengan kartu yang dicap dengan mesin, merdu mendayunya bahasa Belanda dan Perancismu, selera musikmu yang ringan dan easy listening, La Mediatheque perpustakaan raksasa penuh CD dan DVD yang bikin betah nongkrong berjam-jam, belum lagi Casa, Promod, Miss Etam, Jennifer, Colruyt, Delhaize, Habitat, Chi-chi's, Pizza Hut, Nature Discovery (nama toko, supermaket dan restoran).....

Belgia oh Belgia, kenapa rumputmu lebih hijau daripada Belanda????Image hosted by Photobucket.com

Tuesday, August 09, 2005

Gak jelas

Aku suka bingung sama orang yang tidak bangga dengan asalnya dan ikut-ikut biar dianggap ngetrend. Contoh konkret: masalah bahasa. Waktu kuliah di Bogor, yang dekat dengan Jakarta dan bahasa Jakartanya lebih sering dipakai daripada bahasa Sunda, teman kuliah yang kebanyakan dari luar Jakarta ikut-ikut ber lo-gue. Ada yang berhasil mengikuti, mirip dengan orang Jakarta asli tanpa logat daerah asalnya. Ada juga yang gagal tapi tetep maksa, berlogat Jawa tapi ber-lo-gue. Yang ada, dia jadi bahan lelucon teman-temanImage hosted by Photobucket.com. Aku sendiri kagok berlo-gue, lebih biasa pake aku-kamu, walaupun mungkin ada yang menganggap itu kampungan atau terlalu baku atau apa.

Kemaren ada ibu dari Gereja Indonesia nelpon, dia nanyain aku kemana aja, jarang keliatan di gereja. Waktu dia nelpon, aku gak tahan mendengar dia berkali-kali membahasakan dirinya dengan "Ikke" atau "Ekke". Dia nanya aku sekarang ngapain aja, dia cerita pengalamannya 15(!!) tahun yang lalu ketika mencari kerja. Aku cuma bisa iya iya aja, lagian pengalaman di jamannya yang kompetisi gak seketat sekarang, gak bisa dibandingin. Bingung aja, kenapa ya dia gak membahasakan dirinya dengan Tante atau saya? Apa itu kebiasaan? Image hosted by Photobucket.com. Kenapa itu harus dibiasakan? Apa si Tante itu ikut-ikutan temennya yang juga gitu ya? Aneh aja dia ngomong bahasa Indonesia, tapi pake Ikke ikke gituImage hosted by Photobucket.com.

Jadi mikir, mungkinkah di 15 tahun yang akan datang aku akan begitu juga?Image hosted by Photobucket.com
Apa aku bakal lebih suka ngobrol dengan teman senegara dalam bahasa Belanda daripada bahasa ibu? Duh, mikirinnya aja aku merinding sendiri. Kesannya sok banget, gak mau pake bahasa yang diajarin dari lahirImage hosted by Photobucket.com. Akankah aku seperti Tante Tress yang ngobrol dengan teman-temannya sesama orang Indonesia dengan bahasa Belanda? Image hosted by Photobucket.com

Jawabannya mungkin bisa dilihat 15 tahun dari sekarang. Sekarang aku cuma bisa bilang, lebih enak jadi diri sendiri, mau jungkir balik pake saya, kamu, aku yang penting itu bukan karena ikut-ikutanImage hosted by Photobucket.com.

Monday, August 08, 2005

Cuaca bikin bingung

Yang namanya musim panas, bukan berarti panas selalu, ada hari-hari yang memang panasnya benar-benar terik dan kering, tapi ada juga hari-hari yang dibasahi hujan, mendung dan berawan. Ada lagunya Sting yang gini :"That's my baby, she can be all 4 seasons in one day." Lagu ini ditujukan buat ceweknya, yang mood-nya bisa berubah-ubah dalam satu hari, sehangat musim semi, panas seperti musim panas, sejuk seperti musim gugur atau dingin seperti musim dingin. Ternyata lagu ini cocok juga buat cuaca di Belanda terutama wiken kemaren. Asli, cuacanya bibu (bikin bingung) banget. Hujan beberapa menit, kemudian langit biru bersih tanpa awan, matahari bersinar terik dan tiba-tiba turun hujan lagiImage hosted by Photobucket.com. Jadi bertanya-tanya, ini musim panas apa gugur?

Yang kasihan adalah event yang sudah direncanakan jauh hari dan penyelenggaranya berharap udaranya cerah, seperti layaknya bulan Agustus. International Boekenmarkt di Deventer dan Gay Pride di Amsterdam adalah sebagian "korban" cuaca. Sabtu kita seperti biasa ke pasar. Gak lama nyampe di rumah, keluarga Christine datang (tanpa Randy), pingin liat Milli. Larissa, anak tertua mereka, seneng dengan binatang dan langsung akrab dengan Milli. Christine dan Michel nunjukkin rumah yang mereka minati. Mereka merasa rumah yang sekarang kekecilan dan pingin pindah rumah. Banyak rumah yang dijual di sekitar komplek kita dan mereka berminat dengan rumah gak jauh dari rumah kita. Katanya bagus, tapi mereka belum tahu apa tagihan rumahnya bisa ditanggung sesuai dengan penghasilan mereka. Kata Christine, "Wah kalo kita jadi pindah situ, enak ya, bisa mampir ke sini tiap hari, nge-teh."

Michel nyaut, "Wah kayaknya Retno gak bakal suka deh."

Sialan, nembak aja diaImage hosted by Photobucket.com.
Gegen bilang, kalopun mereka jadi pindah ke situ, aku bakalan jarang di rumah karena harus sekolah dan magang. Michel sebenarnya pingin cari rumah di Apeldoorn juga karena 2 kakaknya tinggal di situ. Selain itu Apeldoorn lebih dekat ke Amsterdam, tempat kerjanya. Christine ngelarang Gegen cerita ke mama mereka, karena kalo beliau tahu, pasti bakal Asedih.

Hari Minggu, cuaca masih aneh aja. Di gereja juga rasanya dingin banget, mungkin pemanas ruangan gak dinyalain. Karena bosan di rumah, kita jalan ke Ikea cabang Utrecht yang kebetulan lagi buka hari itu. Gila macet rame orang nyari parkirImage hosted by Photobucket.com. Kalo hari Minggu, semua toko memang tutup, kecuali di kota-kota yang rame turis seperti Rotterdam, Amsterdam dan Den Haag. Biasanya tiap awal bulan, toko-toko buka (koopzondag). Waktu liat orang rame gitu, aku mikir kayaknya orang butuh hiburan deh. Kenapa ya toko-toko gak dibuka aja pas hari Minggu?
Di dalam Ikea, rame juga orang-orang, lama-lama pusing juga. Jadi berasa kayak di Tanah AbangImage hosted by Photobucket.com.

**kenapa ya walaupun hujan, harumnya tanah seperti di Tanah Air tidak pernah ada??

Friday, August 05, 2005

Air France , RUU dan Hitler

Dua hari yang lalu pesawat Air France jatuh di Toronto, Kanada. Semua penumpang dan awak pesawat selamat. Waktu liat berita itu di tipi, aku langsung nyambungin ke film Unbreakable. Kok bisa mirip gitu, bedanya di film itu yang selamat cuma Bruce Willis sendiri, sementara di kecelakaan kemaren, semua penumpang selamat. Juru bicara Air France di tivi bilang kalo ini berkat kecekatan awak pesawat dalam menyelamatkan penumpang. Ha?Image hosted by Photobucket.com

Buat kita yang percaya Tuhan, kecelakaan pesawat yang jarang banget kemungkinan penumpangnya selamat, ini pasti atas kehendak dan bantuan-Nya.

*********


Minggu lalu ada rencana Undang-undang baru dari pemerintah Belanda : Dilarang meninggalkan barang di dalam mobil, kalau dilanggar, ada dendanya Image hosted by Photobucket.com. Alasan RUU ini karena bila mobil ngerem mendadak, barang-barangnya berterbangan dan bisa mengakibatkan kecelakaan. Katanya sih, salah satu penyebab kecelakaan karena itu.

Memang kalo kita parkir, disarankan untuk tidak meninggalkan barang berharga di mobil, takutnya itu memancing pencuri.

Untungnya RUU ini batal, aku gak kebayang aja, abis belanja di pasar, pingin jalan-jalan lagi, naruh barang di kursi belakang, eh tau-tau pas balik ke mobil, dapet bon didenda Image hosted by Photobucket.com.

***************


Tadi pagi baca di koran, ditemukan buku harian adik perempuan Hitler. Dia cerita kalo sejak kecil Hitler memang sudah bersifat keras. Dari keluarganya didikannya pun keras, mungkin itu yang membuat dia jadi salah satu orang yang ditakuti di dunia.

Eh abis baca itu kok aku jadi mikir Hitler kayak You know who alias Lord Voldemort di Harry Potter yaImage hosted by Photobucket.com.

ZDF, salah satu stasiun non komersial Jerman (kita dapet channel-nya juga di rumah), membuat dokumenter tentang keturunan Hitler. Karena mereka malu dengan latar belakang, identitasnya disembunyikan. Sayang aku gak bisa bahasa Jerman, menarik juga sih dokumenternya....

Wednesday, August 03, 2005

Hidup untuk Makan atau Makan untuk Hidup???

Pertama-tama aku ingin mengucapkan terima kasih buat teman-teman atas ucapan berduka cita atas kepergian Eyangku. Terima kasih teman!!Image hosted by Photobucket.com

Kalau ngobrol dengan teman Indonesia yang tinggal di luar Indonesia, pasti obrolannya akan membahas ML (makanan lagi makanan lagi, pinjem istilahmu ya Mom RiekeImage hosted by Photobucket.com). Entah itu tentang resep masakan, bahan masak atau kerinduan akan makanan tanah air. Untung di Belanda makanan Indonesia tidak asing, bahan-bahan pun tersedia cukup (sampe ada duren, singkong, pete atau tape beku di supermaket Oriental).

Ketika baru nikah, kemampuan masakku terbatas nasi goreng, telur ceplok. Karena harus masak untuk suami, aku coba-coba masak dari paketan bumbu yang kita cuma perlu masukin daging atau bahan mentah lainnya. Salah satu produk yang dulu kupakai adalah Conimex (bukan obat sakit kepalaImage hosted by Photobucket.com). Mereka punya bermacam-macam produk, seperti kerupuk, terasi, bawang goreng, acar di botol kaca, bermacam-macam sambal, kecap, dll. Kalau liat judul bumbu yang tinggal masuk aja sih enak, ada Ajam Smoor (alias Ayam semur), Rendang, Hot Ajam (Ayam Pedas), dll. Begitu dicobaImage hosted by Photobucket.com. Rasanya gak Indonesia banget. Tentu saja karena rasanya sudah diadaptasi dengan lidah orang sini.

Penasaran, aku beli buku masak berbagai bahasa. Aku tidak menyerah memasak karena kupikir cinta datangnya dari perut, kalau aku masak enak, suami tambah cinta dongImage hosted by Photobucket.com. Sejak punya blog dan daftar di Blogfam, aku jadi tau banyak juga resep Indonesia dari orang Indonesia yang beredar di internet. Aku juga jadi tahu kalau rasa yang paling enak itu didapat dari bahan yang segar dan bukan bahan yang tinggal masukin. Jadi tahu juga kalau masakan Indonesia itu semakin lama semakin enak rasanya karena bumbunya meresap. Seperti rendang ala Dian yang begitu dagingnya digigit, langsung berasa bumbu-bumbunya karena sebelum dimasak dagingnya direndam dengan bumbu, bahkan waktu memasaknya 3 jam lebih.

Kalau lihat makanan orang Belanda, aku mikir sederhana banget makanan mereka. Bumbunya cuma garam, merica dan kalau rajin pake wine atau anggur. Kalau lagi nyari resep dan ke website Life and Cooking, acara lifestyle di tivi, aku jadi kecewa karena bahannya semua serba sudah jadi. Misalnya Sphagetti Bolognese, bumbunya sedikit dan tinggal masukin saus pasta yang sudah jadiImage hosted by Photobucket.com. Laetitia, kakak iparku sendiri mengakui kalau makanan Belanda kurang bervariasi, orang Belanda sendiri lebih suka makan pasta dan mengakui masakan tetangga mereka Belgia lebih enak. Ada juga sih orang Belanda yang fanatik dengan makanan Belanda alias KL (kentang lagi kentang lagi) dan tidak mau makan makanan negara lain.

Acara memasak bikinan Belanda jarang banget kalo aku lihat. Paling ya Born2Cook (yang paling disebelin sama Gegen karena tukang masaknya selalu menumpuk-numpuk makanan kalo disajikan, misalnya mie paling bawah, daging ditumpuk di atas lalu di atasnya lagi saus atau potongan seledri/thymeImage hosted by Photobucket.com), Kook in 1000 seconden, De Reistafel (acara masaknya Lonny Gerungan, yang berkeliling Indonesia dan Asia sambil memasak) dan Life and Cooking. Setiap jam 5 sore setiap harinya ada acara memasak yang tiap hari berbeda, biasanya acaranya buatan BBC. Hari Senin Ching's Kitchen, Selasa Food Source Asia (kokinya orang Australia tapi masaknya masakan Asia), Rabu Friends for Dinner (ibu-ibu Amerika yang ngumpul, masak bareng lalu dimakan bersama), Kamis Tony en Giorgio (dua koki Italia) dan Jumat Sophie's Weekend. Favoritku hari Senin dan Jumat. Minggu-minggu kemaren hari Rabu biasanya koki terkenal Inggris, Gary Rhodes, tapi entah kenapa dia diganti. Aku selalu terkagum-kagum liat Gary Rhodes masak, gayanya santai, pelan tapi pasti, masaknya lamaa banget dan kameramennya pinter ngambil gambar yang bikin orang ngilerImage hosted by Photobucket.com. Setelah Bold and the Beautiful kalau Gegen belum pulang kerja biasanya aku nonton BBC, acara Ready Steady Cook, semacam lomba memasak antara 2 koki yang dibantu bintang tamu. Selesai mereka masak penonton memilih favorit mereka di antara 2 koki tersebut.

Ada juga acara memasak yang dipadu dengan wisata, misalnya De Reistafel dan Gentse Waterzooi di televisi Belgia. Mereka mengunjungi satu negara lalu mengundang pakar masak setempat untuk masak bareng.

Tiap Selasa malam koki terkenal Gordon Ramsay punya acara sendiri, dimana dia membantu restoran yang hampir bangkrut. Ada restoran yang kokinya pemalas, dapurnya kotor dan masakannya bukan dari bahan segar atau bermutu. Gordon ini kalau ngomong kasar banget, semua sumpah serapah keluar dari mulutnya kalau lagi marah, tapi dia memang jago masak banget. Restoran yang dia bantu biasanya jadi laku lagi, kecuali satu yang memang kokinya kacau banget. Belanda juga bikin acara serupa, bagus juga.

Satu koki tivi yang gak aku suka adalah Nigella Lawson, dia kalau masak selalu berlemak dan berat, tapi tetep aja langsingImage hosted by Photobucket.com. Lalu cara dia melahap makanannya itu, bikin gak napsuImage hosted by Photobucket.com. Dia melahap langsung pake tangan, dijilat-jilat atau makanannya berlepotan di mulutImage hosted by Photobucket.com. Kayaknya aku langsung jadi eneg kalo liat dia makanImage hosted by Photobucket.com.

Sekarang aku bisa bilang masak adalah salah satu hobiku, walaupun kalau masak aku masih liat-liat resep dan belum bisa bikin resep sendiri. Asyik rasanya kalau tiap akhir minggu mencari-cari resep untuk seminggu lalu hari Sabtunya ke pasar di Arnhem atau Nijmegen untuk mencari sayuran dan buah segar. Kayaknya memasak jadi semacam refreshing untukku. Puas banget rasanya kalau memasak rasanya enak dan Gegen makannya lahap. Biasanya aku masak 2 hari masakan Indonesia atau Asia, 2 hari masakan Belanda atau bule dan 1 hari pasta. Wiken, kokinya libur dongImage hosted by Photobucket.com.

**foto diambil dari Conimex

Monday, August 01, 2005

Selamat jalan

Dari cerita ibu, beliau salah satu wanita terkuat yang dia kenal. Setelah suaminya (bapak dari ibuku) dipanggil Tuhan, beliau berjuang sendirian untuk kelima anaknya. Kalau melihat beliau, aku sadar dari beliaulah sifat pendiamku, walaupun kemudian kulihat, beliau lebih pendiam dan tenang. Kenangan masa kecilku, setiap Natal bila kami ke Solo, beliau selalu membelikan brem (makanan kecil, putih terbuat dari tape) kesukaanku di warung dekat rumahnya. Juga ketika cuma kami berdua di rumah, kami makan ayam Bakar Kerten, dengan nasi hangat dan makannya pake tangan. Sebelum berangkat untuk sekolah di Belgia, aku menyempatkan diri mengunjungi semua keluarga di Semarang dan Solo, dan beliau memberiku berkat tanda salib ketika kami meninggalkan Solo. Itulah saat terakhirku melihat beliau yang jangkung, berdiri gagah di atas dua kakinya....

Ketika stroke menyerang beliau kurang lebih 2 tahun yang lalu dan melumpuhkan sebelah tubuhnya, dari yang kudengar beliau berubah 180 derajat. Segala upaya dari anak-anaknya untuk meringankan sakit, ditolak oleh beliau. Sepertinya beliau pasrah dengan penyakitnya ini. Ketika mudik kemaren, air mataku hampir tumpah melihat beliau yang hanya bisa tiduran dan tubuhnya yang begitu kurus. Ketika melihatku, beliau langsung bertanya dalam bahasa Belanda, "Waar is jouw man?" (Mana suamimu?) Ketika diajak ngomong Belanda sama Gegen, beliau bilang bahasa Belandanya lupa-lupa ingat.

Pagi ini, Bapak kirim sms : Eyang Solo dipanggil Tuhan jam 8.45 WIB dan dimakamkan hari Selasa.

Beliau, wanita kuat itu adalah ibu dari ibuku, Eyang Solo.
Selamat jalan, Eyang. Aku tahu Eyang sudah tenang di sisi-Nya. Tot ziens...